• Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik


• Kamis, 09 September 2010 •°•°•°•°•°• • HomeGalleryBuku TamuKontakSearch »      

blue_marlin.jpg


Produk Hukum
Lampung Barat

beguayMajalah Beguay Jejama

Repong Damar


Home

Potensi pengembangan wisata selam
Lampung Barat merupakan salah satu diantara 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota di Propinsi Lampung yang memiliki wilayah pesisir.  Kondisi fisik lingkungan perairan laut pesisir Lampung Barat adalah suhu udara berkisar antara 27-32 derajat Celsius dengan suhu rata-rata 28 derajat Celsius, suhu permukaan laut berkisar antara 27-30 derajat celsius dengan rata-rata 27 derajat celsius, kemudian salinitas 30-36% dengan rata-rata 35%, pH air 7-8,5 (rata-rata 8) dan kecerahan 3-10 dengan rata-rata 6.  
Salah sektor yang menjadi unggulan di Kabupaten Lampung Barat adalah sektor perikanan.  Dengan Kondisi fisik lingkungan laut yang demikian tersebut di atas sangat memungkinkan di perairan pesisir Lampung Barat sangat cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang.  Terumbu Karang merupakan keunikan diantara asosiasi atau komunitas kelautan yang seluruhnya dibentuk oleh kegiatan biologis.  Terumbu Karang adalah endapan-endapan massif yang penting dari Kalsium Karbonat yang terutama dihasilkan oleh Karang (filum cridaria), klas anthozoa, ordo madreporaria : scleractinia), dimana dengan sedikit tambahan dari alga kapur dan organism lain yang mengeluarkan Kalsium Karbonat.  Terumbu Karang ini hanya terdapat di daerah tropis saja dapat berkembang. Potensi penyebaran terumbu karang terdapat hampir di sepanjang wilayah pesisir Lampung Barat. Daerah Cagar Alam terumbu karang di wilayah pesisir barat dan masuk dalam pengelolaan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) seluas 21.600 Ha, yang terletak di perbatasan Bengkulu Selatan sampai dengan Kecamatan Lemong seluas 600 ha dan Teluk Belimbing sampai Tanjung Cina seluas 21.000 ha.  Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Fishing Diving Club (FDC) rata-rata persentase penutupan karang hidup untuk kedalaman 3 meter saja mencapai 20%, karang mati mencapai 47%, dan sisanya 33% merupakan penutupan komponen abiotik dan alga.  Sedangkan untuk kedalaman terumbu karang 10 meter rata-rata persentase penutupan karang hidup mencapai 17%, penutupan karang mati mencapai 32%, dan sisanya 51% ditutupi oleh alga dan komponen abiotik.
Disamping itu diketahui bahwa habitat terumbu karang yang ada di wilayah pesisir laut Lampung Barat ini dijumpai lebih dari 95 spesies dan 18 famili jenis ikan pada kedalaman 3 meter.  Sedangkan untuk kedalaman 10 meter dijumpai lebih dari 139 spesies dari 25 famili.  Dengan demikian tingginya keanekaragaman jenis tersebut menunjukkan bahwa kondisi komunikasi ikan terumbu karang di Lampung Barat ini relative stabil.  Lereng Terumbu Karang kedalaman 20 meter, terdiri dari tebaran karang meja, karang daun, karang kerak berbagai warna dan sebaran ikan hias dari keluarga Buterflyfishes.  Sedangkan Ekosistem terumbu karang pada kedalaman 15 meter, di dominasi oleh karang meja, dengan variasi karang lunak beraneka warna, serta ikan dari genus Chromis sp, Chaetodon sp,  dan keluarga Hawkfishes. Sementara Hamparan terumbu karang di kedalaman 10 meter juga terdapat ikan Powder-blue Surgeonfish (Acanthurus nigricans) yang merupakan ikan hias laut berkelas eksport. Keindahan terumbu karang ini tentunya sangat menarik dari para pecinta selam untuk melihat keindahan dari terumbu karang tersebut.  Pengembangan wisata bahari berupa keindahan laut dengan habitat berbagai terumbu karang yang sangat indah.  Keindahan terumbu karang ini dapat disaksikan dengan melakukan penyelaman di kedalaman laut dimana terumbu karang tersebut berada.  Untuk itu telah dilakukan survey oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Barat. Survey Daerah Penyelaman Potensial Wisata Bahari dilaksanakan pada tanggal 04 Juni 2006 sampai dengan 06 Juni 2006.  Survey dilaksanakan dengan melibatkan 3 (tiga) orang penyelam, 1 (satu) orang pengurus alat selam, dan 1 (satu) orang pencatat data.  Perlengkapan dan alat yang digunakan selama survey adalah 2 (dua) unit Breath Container, 11 (sebelas) buah tabung selam, 2 (dua) alat snorkling, 1 (satu) buah kompas, dan 1 (satu) unit kamera bawah laut.  Penentuan daerah survey dilakukan berdasarkan hasil laporan dari Expedisi Zooxanthelae VII tahun 1999, informasi nelayan dan berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Barat.  Survey dilakukan dengan melakukan pemotretan terumbu karang dan biota didalamnya dengan menggunakan kamera bawah laut.  Identifikasi karang dan biota laut dilakukan didarat berdasarkan pencatatan/pengamatan lapangan dan foto hasil pemotretan.
Dengan kondisi terumbu karang yang demikian maka potensi maksimum perikanan laut di Kabupaten Lampung Barat sebesar 8.311,8 ton dengan perincian perikanan tangkap berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung Barat sebanyak 7.595,10 ton, dan perikanan budidaya 716,6 ton dengan panjang pantai 210 km.  Dengan melihat kenyataan ini, maka masih terbuka peluang untuk pemanfaatan potensi perikanan secara optimal.  Namun demikian hendaknya di dalam upaya upaya pengelolaan sumber daya wilayah pesisir laut di Kabupaten Lampung Barat terutama perikanan harus dilaksanakan secara bijak dengan memperhatikan tiga aspek penting yaitu keseimbangan ekologis-ekonomis-sosial.  Untuk itu pengelolaan sumber daya pesisir laut dalam hal ini terumbu karang harus dilakukan kearah pengelolaan yang bersifat eksploitif-konservasi, preservasi dan terintegrasi, sudah harus di introduksikan di dalam proses pembangunan di Kabupaten Lampung Barat.
    Keberhasilan dalam pengelolaan daerah pesisir Barat di Kabupaten Lampung Barat terutama lautnya secara lestari pada prinsipnya harus dilandasi suatu keterpaduan atau integrasi yang selaras antara berbagai sektor lainnya.  Keterpaduan wilayah (darat-laut, hulu dan hilir), wilayah pesisir baik daratan maupun lautan sangat dipengaruhi oleh perlakuan dan perubahan kondisi dari masing-masing daerah tersebut.
    Adanya perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya terutama sumber daya kelautan dari yang bersifat eksploitatif-sektoral menjadi eksploitasi-konservasi-integratif, maka dalam tahap pengelolaan (proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan) program pemulihan (recovery) harus dilakukan secara partisipatif yang melibatkan seluruh stokeholder dengan cara membangun kemitraan dan komitmen bersama komponen utama pelaku kemitraan (stokeholder) yakni : pemerintah, swasta, kelompok ilmiah, LSM, dan organisasi internasional.  Untuk itu harus ada prinsip dasar kemitraan yang harus dipegang oleh mas
 
< Prev   Next >



Lambar_Menarik

 Radio FM Swarapraja
Radio Swara Praja

 Lampung Barat di Wikipedia
Lampung Barat di Wikipedia

 Paksi Buay Pernong Paksi Pak Skala Brak
Buay Pernong


Aktivitas Membangun Lampung Barat
Aktivitas Membangun Lampung Barat
Saat ini 11 pengunjung online


Lampung Barat © 2009 Tentang Situs | Link | RSS